PERBANDINGAN SYAIR PERAHU KARYA
AMIR HAMZAH
DARI
PERAHU KARYA IDRUS TINTIN
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kritik Sastra
Disusun Oleh:
Sehat S.M Silalahi
(12110287)
Dosen Pembimbing : Drs.
Tigor Sitohang, M. Pd.

FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HKBP
NOMMENSEN
MEDAN
2014
KATA PENGANTAR
Dengan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-nya
penulis dapat menyelesaikan tugas membuat makalah tentang " Perbandingan Syair Perahu Karya Amir
Hamzah Dari Perahu Karya Idrus Tintin”yang diberikan oleh dosen pembimbing
matakuliah Kritik Sastra.
Penulis menyadari
bahwa makalah ini belum tentu dianggap benar oleh semua pihak. Oleh karena itu,
kritik dan saran oleh semua pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir
kata, terlebih dahulu penulis ucapkan terima kasih dan mohon maaf bila ada kesalahan kata. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.
Medan, Januari 2015
Penulis
PERBANDINGAN SYAIR PERAHU KARYA
AMIR HAMZAH
DARI PERAHU KARYA IDRUS TINTIN
A. Syair Perahu - Hamzah Fansuri
Nama
ulama Hamzah Fansuri As-Singkili sangat dikenal di nusantara ini. Makam beliau
masih ramai dikunjungi para penziarah yang datang dari berbagai daerah. Makam
beliau berada di kampong Obor terletak di Hulu Sungai Singkil.
Makam
itu bertulis : Inilah makam Hamzah Fansuri mursit Syeikh Abdurrauf. Dikatakan
Hamzah Fansuri wafat sekitar 1016H/1607M.Nama beliau lah menjadi salah satunya
yang membawa Aceh menjadi Serambi Mekah. Menurut A.Hasymi yang juga berasal
dari Acheh, Hamzah Fansuri dan Ali Fansuri yang juga merupakan ayah kepada
Abdul Rauf Fansuri adalah adik beradik.Kedua bersaudara ini berketurunan Parsi.
Datuk nenek keduanya, Syeikh Al-Fansuri dipercayai oleh kerajaan memimpin pusat
pendidikan yang bernama Daya Blang Pria.
Adapun
mengenai riwayat hidup Hamzah Fansuri As-Singkili para sarjana berbeza pendapat
kerana tidak diketahui secara pasti tempat dan bila tarikh lahirnya. Akan
tetapi berdasarkan fakta sejarah yang ada, Hamzah Fansuri diperkirakan hidup
pada abad ke-16 saat Aceh di bawah pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayat Syah
Sayyidil Mukammil (997-1011 H/ 1589-1604 M).
Dari
nama belakangnya “Fansur” dapat kita ketahui bahwa ia berasal dari Barus,
kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, daerah pesisir
Barat pulau Sumatera itu bila diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi
“Fansur”. Sebagaimana tertulis dalam syairnya “Burung Pingai”; Hamzah
Fansuri di Negeri Melayu Tempatnya kapur di dalam kayu Asalnya
manikam tiadakan layu Dengan ilmu dunia di manakan payu. ‘Kapur’ ini
sama maknanya dengan ‘Barus’.
Dari
sinilah tercipta kosa kata majmuk “kapur barus". Disebut lebih terperinci
oleh A.Hasymi bahawa Fansur itu satu kampung yang terletak antara Kota Singkel
dengan Gosong Telaga (Aceh Selatan). Pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam,
kampung Fansur itu terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bahagian Aceh
Selatan. Pendapat lain menyebut bahawa Hamzah Fansuri dilahirkan di Syahrun
Nawi atau Ayuthia di Siam dan berhijrah serta menetap di Barus. Dikatakan ayah
Hamzah Fansuri bernama Syeikh Ismail Aceh bersama Wan Ismail dan Po Rome atau
Po Ibrahim (1637-1687M) meninggal dunia dalam pertempuran melawan orang Annam
di Phanrang. Syeikh Ismail Aceh itu pernah menjadi gabenor di Kota Sri Banoi.
Hamzah
Fansuri As-Singkili tercatat dalam lintasan sejarah peradaban Aceh merupakan
salah seorang sufi sekaligus sasterawan terkemuka yang tiada taranya dalam
menulis karya-karya kesusasteraan Melayu. Beliau adalah Hamzah Fansuri yang
buku-bukunya sering disebut dalam manuskrip kuno “Sejarah Melayu” (Melayu
Annals) seperti “Durrul Manzum” (Benang Mutiara) dan “Al-Saiful Qati” (Pedang
Tajam). Dengan syair-syairnya yang berunsur sufistik dan kontekstual telah
memberi pengaruh luar biasa bagi cendekiawan Melayu untuk membina dan
mengembangkan bahasa Melayu menjadi bahasa seni budaya, bahasa ilmu
pengetahuan, bahkan bahasa antarabangsa disebelah dunia Timur.
Syair-syair
Hamzah Fansuri merupakan karangan mistik Islam yang berhakikat makrifat jami’a
bainahuma, yakni ilmu yang melingkupi dan menghubungkan wujud fenomenal/wahmi
dan wujud kesegalaan. Tulisannya menghuraikan tasawuf klasik secara eksplisit
dan signifikan, diperkemas dalam bahasa Melayu seperti “Asrarul Arifin Fi
Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid”, “Syaraabul Asyiqin”, dan “Al-Muntahi”. Betapa
banyak perbendaharaan kosa kata Melayu yang ditambahnya selain melakukan
pembaharuan di bidang logika dan mantiq yang bertalian dengan pemikiran dalam
masalah bahasa.
Keberhasilan
Hamzah Fansuri dengan syair-syairnya keagamaan tidak terlepas dari latar
belakangnya sebagai seorang sufi yang telah mengelana mencari makrifat (uniomystika)
ke Kudus, Banten, Siam, Semenanjung Melayu, India, Persia, dan Tanah Arab.
Berbagai buku tasawuf dari sufi terkemuka dengan mudah ia kuasai kerana
kemahirannya dalam berbahasa Melayu, Urdu, Persia, dan Arab. Dan tak sedikit
pula sajak-sajak para sufi terkemuka Persia seperti Ibnu Arabi, Al-Hallaj,
Jalaluddin Rumi, Al-Bustami, Maghribi, Nikmatullah, Abdullah Talil, Abdul Qadir
Jailani, Iraqi, Sa’di, dan lain-lain itu ia kutip dalam bahasa aslinya, lalu ia
terjemahkannya ke dalam bahasa Melayu. Syair yang dihasilkannya menunjukkan
bahawa dirinya sangat terpengaruh dan terilhami oleh Ibnu Arabi, tokoh aliran
wujudiyyah.
Kedudukan
Hamzah Fansuri begitu penting sekali kerana dialah penyair pertama yang menulis
bentuk syair dalam bahasa Melayu empat abad silam. Sumbangan besarnya bagi
bahasa Melayu adalah asas awal yang dipancangkannya terhadap peranan bahasa
Melayu sebagai bahasa keempat di dunia Islam sesudah bahasa Arab, Persia, dan
Turki Utsmani.
Hamzah
Fansuri banyak mendapat asupan ilmu di Zawiyah/Dayah Blang Pria Samudera/Pasai,
Pusat Pendidikan Tinggi Islam yang dipimpin oleh Ulama Besar dari Persia, Syekh
Al-Fansuri, nenek moyangnya Hamzah. Kemudian Hamzah Fansuri mendirikan Pusat
Pendidikan Islam di pantai Barat Tanah Aceh, iaitu Dayah Oboh di Simpang kiri
Rundeng, Aceh Singkil.
Kedalaman
ilmu yang dimiliki telah mengangkatnya ke tempat kedudukan tinggi dalam dunia
sastera Nusantara. Prof Dr Naguib Al-Attas menyebut “Jalaluddin Rumi”nya
Kepulauan Nusantara, yang tidak terbawa oleh arus roda zaman.
Penyair
sufi, sajak-sajak Hamzah Fansuri penuh dengan rindu-dendam, luapan emosi cinta
kepada kekasihnya, Al-Khaliq, Allah Yang Maha Esa. Rindunya dengan sang Khaliq
menjadikannya sebagai Insan Kamil hatta tiada lagi pembatas antara dia dan
Khaliqnya, karena jiwa telah menyatu ke dalam diri kekasih yang dirindukannya,
seperti makna implisit dalam hadits Qudsi riwayat Thabrani : ”Hambaku selalu
menghampiriKu dengan ibadah-ibadah yang sunat sehingga Aku cinta kepadanya.
Bila demikian, Aku menjadi pendengarannya yang dipergunakannya untuk mendengar,
pemandangannya yang dipergunakan untuk memandang, lisannya untuk berbicara dan
hatinya untuk berpikir.”
Oleh
kerana itu dalam karya tulis Hamzah Fansuri seakan-akan mendengar dengan
telinga Khaliqnya, memandang dengan mata Khaliqnya, berbicara dengan lisan
Khaliq nya. Tentu saja hal ini sangat sukar dimengerti dan difahami oleh orang
yang tidak banyak membaca dan mendalami buah pikiran dan filsafat Ulama Tasawuf
atau penyair sufi. Cakerawalanya yang sejauh ufuk langit telah menghangatkan
syair-syair padat dan berisi penuh dengan butir-butir filsafat, tetapi menawan
hati untuk menguak makna yang terkandung.
Di
antara karyanya yang ekstentik itu adalah Syair Burung Perahu, Syair Burung
Pingai, Syair Burung Unggas, Syair Perahu dan Bismilllahir Rahmanir Rahim.
Menurut A.Hasjmy, meskipun ia menganut falsafah Tuhan (Wahdatul Wujud), ia
menolak faham hulul, faham keleburan selebur-leburnya dengan Tuhan : Aho
segala kita umat Rasuli
Tuntut ilmu hakikat al-wusul Karena ilmu itu pada Allah qabul
I’tiqad jangan ittihad dan hulul.
Tuntut ilmu hakikat al-wusul Karena ilmu itu pada Allah qabul
I’tiqad jangan ittihad dan hulul.
Ulama
dan pujangga Islam Nusantara tersohor Hamzah Fansuri meninggal pada akhir
pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam (1607-1636 M)
B.
Perahu
Karya Idrus Tintin
Dalam sajak itu tampak dengan jelas bahwa Idrus Tintin
dengan sengaja menjadikan Hamzah Fansuri (melalui Syair Perahu) bukan hanya
sebagai acuan, melainkan juga sebagai pembanding (intertekstualitas) sajaknya.
Dua hal: pengacuan dan pembandingan itulah yang akan dibicarakan dalam tulisan
ini. Syair Perahu. Syair Perahu adalah salah satu syair Hamzah Fansuri yang
sangat terkenal. Menurut Braginsky, sejarawan Nusantara asal Rusia, syair ini
memiliki banyak versi dan terus berkembang setelah kematian Hamzah Fansuri.
Namun, beberapa syair awalnya dipandang masih asli dan
bahkan disinyalir menjadi cikal-bakal lahirnya pantun Melayu modern saat ini.
Sebagai seorang sufi, Hamzah Fansurilah yang pertama kali menyampaikan
ajaran-ajarannya melalui rubai, pantun empat baris bersajak a/a/a/a atau
a/b/a/b, di Indonesia.
Konon, pola pantun empat baris yang diperkenalkan Hamzah
Fansuri inilah yang kemudian berkembang di Indonesia. Di samping memiliki
keistimewaan dalam cara penyampaian (melalui rubai), Hamzah Fansuri juga memiliki
keistimewaan dalam mengemas kandungan isi ajaran tasawufnya. Ia tidak
menyampaikannya secara vulgar, tetapi secara simbolis dan metaforis, seperti
tampak pada Syair Perahu. Dalam syair itu, kehidupan ditamsilkan dengan sebuah
perahu. Barangkali, berkat jasanya itu, Hamzah Fansuri (dan Syair Perahu) kini
telah menjadi mitos yang dipercaya dan diyakini kebenarannya oleh banyak orang.
Tidak terkecuali Idrus Tintin. Sajak Perahu Dilihat dari strukturnya, sajak Perahu
karya Idrus Tintin ini sangat sederhana: hanya terdiri atas empat bait yang
lariknya pendek-pendek serta kutipan empat bait dari syair ?Perahu? karya Hamzah
Fansuri sebagai catatan kaki.
Kutipan empat bait syair Perahu Hamzah Fansuri itu, di
samping berguna sebagai referensi atau acuan, juga bermanfaat sebagai kerangka
bandingan dalam intertekstual. Barangkali itulah sebabnya Idrus Tintin merasa
perlu menambahkan keterangan di bawah judul sajaknya itu dengan kata-kata
Setelah Hamzah Fansuri. Sebagai sebuah referensi, keterangan itu menunjukkan
bahwa perahu yang diciptakan/dimilikinya itu lahir setelah perahu Hamzah
Fansuri. Sajak Perahu berkisah tentang pengakuan dan penyesalan si aku lirik
(Idrus Tintin) atas keberadaan dirinya yang bebal dan nakal. Ibarat sebuah
perahu, ia bahkan sama sekali tidak menyerupai perahu Hamzah Fansuri yang mampu
mengarungi lautan makrifat.
Kisah perahu (buatan) aku lirik ini dimulai dengan
pernyataan/pengakuan: Perahuku kecil dan rapuh/layarnya koyak dan dayungnya
pendek. Setelah menjelaskan lebih rinci akan kerapuhan perahunya: tidak
memiliki perabot yang lengkap, tidak kuat dan kokoh, bekalnya serba tanggung,
dan semuanya serba tak handal, si aku lirik mengemukakan keinginannya. Ia
berkeinginan memiliki perahu yang tangguh, seperti milik Hamzah Fansuri.
Akhirnya, si aku lirik pun menyesal. Beginilah cerita penyesalan itu terjadi.
Sejak kecil sebenarnya aku lirik telah dipesan oleh ibunya
untuk rajin belajar: membaca, mengaji, dan mendalami Alquran hingga katam.
Namun, karena bebal, nakal, dan malas, aku lirik tidak dapat mengatamkannya,
maqadam sekali pun. Oleh karena itu, si aku lirik selalu bimbang dan terus
bertanya: Bagaimana hendak mengarungi lautan Sailan dan bagaimana hendak pergi
menyelam mengambil permata nilam, jika baru sampai di Laut Bintan saja
perahunya sudah mau karam Tamsil Perahu Baik Syair Perahu (Hamzah Fansuri)
maupun sajak Perahu (Idrus Tintin) sama-sama menamsilkan kehidupan dengan
perahu. Dalam konteks ini, manusia diibaratkan sebuah perahu yang sedang (dan
harus) mengarungi lautan kehidupan.
Bedanya, perahu Hamzah Fansuri kokoh dan mampu mengarungi
lautan, sedangkan perahu Idrus Tintin rapuh dan kandas. Begitulah Idrus Tintin.
Sajak ?Perahu?-nya, bisa jadi, bukan hanya dimaksudkan sebagai potret dirinya
yang rapuh dan kecil di depan kekokohan dan kebesaran Hamzah Fansuri, melainkan
juga dimaksudkan sebagai pengingat masyarakat agar mau bangkit dari kerapuhan.
Bagaimana caranya? Idrus Tintin menunjukkannya pada Syair Perahu Hamzah Fansuri,
bukan pada sajaknya. Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau. Tinggal di Pekanbaru..
Komentar
Posting Komentar